Home » makalah
Showing posts with label makalah. Show all posts
Showing posts with label makalah. Show all posts
Pendidikan Tradisional dengan Modern
Pendididikan Tradisional dan Modern - Dari dua hal diatas yang mana perbedaanya sangatlah jauh, dimana pendidikan modern mungkin saat ini menjadi pilihan bagi sekolah-sekolah yang ada namun hasil dari kedua bentuk pembelajaran itu juga memiliki perbandingan yang juga tidak kalah jauhnya dari perbedaan diatas.
Dalam system pendidikan tradisional yang kini sudah sangat jarang digunakan lebih banyak menekankan nilai nilai moral dan tatanan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sehingga lulusan yang dihasilkan bisa dikatakan bisa lebih mapan dan diterima di tengah tengah masyarakat.
Saya sangat prihatin melihat hasil lulusan yang sekarang, sangatlah berbeda dengan lulusan lulus yang jauh diatas saya. Banyak kita temukan saat ini bahwa siswa tingkat XI tidak memahami pancasila dan UUD 45. Jangankan faham hafal saja tidak. Bahkan tidak jarang mereka juga tidak tau lagu Indonesia raya.
Bagi sebagian orang mungkin hal ini bukanlah hal yang penting, tapi disinilah tolak ukur yang bisa dilihat oleh kasat mata bahwa pendidikan modern tetap harus didampingi oleh sytem tradisional.
Saya masih ingat betul bahwa setiap akan melakukan ujian dimanapun bahkan saat akan memasuki dunia kerja, saya dan teman teman selalu mendatangi rumah guru guru kami semasa TK hingga guru-guru kami saat duduk di bangku SMA/ MA/ SMK untuk meminta restu beliau beliau, dan hal yang sama dilakukan oleh senior-senior kami meski saat ini sudah banyak yang berkeluarga.
Hal yang demikian sudah jarang sekali saya temukan. Setelah lulus ya sudah.....bahkan ada sebagian siswa yang menyebut guru - gurunya dengan sebutan "BEKAS GURUKU" hal yang sangat menyakitkan untuk didengar. System pendidikan yang bagaimanakah yang harus kita terapkan di dunia pendidikan kita dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Kalau saya pribadi adalah menggabungkan keduanya, dan berusaha menjadi seorang guru yang disegani bukan ditakuti.
PERBANDINGAN PENDIDIKAN MODERN DENGAN PENDIDIKAN TRADISIONAL
Pendidikan Tradisional :
- Guru berbicara murid menyimak
- One man show dimana guru menjadi satu-satunya pelaku pendidikan
- Tatanan bangku berurut
- Masih diberlakukan bentuk hukuman fisik bagi siswa yang tidak taat
Pendidikan Modern :
- Guru sebagai fasilitator
- Peserta didik juga pelaku pendidikan
- Memanfaatkan perkembangan media pembelajaran
- Tidak melakukan hukuman fisik
- Tempat pembelajaran bisa dimana saja
PERBANDINGAN SISTEM PENDIDIKAN TRADISIONAL DENGAN MODERN
Jepang membuat kejutan baru. Kali ini berkaitan dengan sistem dan prestasi di bidang pendidikan. Banyak pengamat pendidikan dan pembangunan di Amerika Serikat melihat bagaimana sistem pendidikan di Jepang telah berhasil mencetak tenaga kerja dengan semangat, motivasi dan watak yang "pas" bagi pembangunan. Sebagai suatu masyarakat yang sepenuhnya mengakui peran pendidikan dalam pembangunan, para ahli di A.S. mulai menengok sistem pendidikan di Jepang, sekaligus mengevaluasi sistem pendidikan di,A.S. sendiri. Maka dibentuklah team Jepang dan A.S. yang bertugas untuk mengevaluasi pertemuan antara Reagan dan Nakasone pada tahun 1983. Pada tanggal 4 Januari tahun 1987, secara serentak di kedua lbu Kota negara diumumkan hasil kerja team tersebut.
Team Amerika Serikat mengumumkan 128 halaman laporan yang oleh seorang pejabat di kantor pendidikan di Washington disebut sebagai suatu potret sistem pendidikan yang canggih. Dalam laporan tersebut, sebagaimana dikutip oleh Newsweek, 12 Januari 1987, dikemukakan bahwa murid-murid di Jepang diperkirakan mempunyai IQ yang tinggi, buta huruf sudah tidak dikenal lagi. Di samping itu berdasarkan tes yang telah distandardisir secara internasional ternyata murid-murid SMA di Jepang memiliki skore di bidang matematik dan sain lebih tinggi dari pada murid-murid SMA di A.S. Tambahan lagi, penelitian ini mempertebal keyakinan para pengamat bahwa pendidikan di Jepang telah memainkan peran yang penting dan sangat menentukan dalam pembangunan ekonomi negara pada dua puluh lima tahun terakhir ini.
A. Antara Menghafal dan Berfikir
Dimana letak kehebatan sistem pendidikan di Jepang ? Para ahli dan pengamat pendidikan boleh kecewa. Ternyata sistem pendidikan Jepang, kalau dilihat dengan kacamata teori pendidikan barat, bisa dikategorikan sebagai suatu sistem pendidikan tradisional. Pemerintah pusat memegang kontrol pendidikan, termasuk menentukan kurikulum yang berlaku secara nasional baik bagi sekolah negeri ataupun sekolah swasta. Pengajaran menekankan hafalan dan daya ingat untuk menguasai materi pelajaran yang diberikan. Materi pelajaran diarahkan agar murid bisa lulus ujian akhir atau test masuk ke sekolah lebih tinggi, tidak mengembangkan daya kritis dan kemandirian murid. Semua murid diperlakukan sama, tidak ada treatment khusus untuk murid yang tertinggal.
Sekolah menekankan pada diri murid sikap hormat dan patuh kepada guru dan sekolah. Dengan singkat sistem pendidikan Jepang dapat dikatakan suatu sistem pendidikan yang "kaku, seragam dan tiada pilihan bagi anak didik". Di fihak lain, sebanyak 78 halaman laporan team Jepang antara lain menyatakan pujiannya atas fleksibilitas sistem pendidikan Amerika Serikat. Di samping itu, juga disebut dan bahwa meski anak didik di Jepang memiliki prestasi lebih tinggi dari pada prestasi anak Amerika, namun hal itu dicapai dengan pengorbanan yang tidak ringan. Antara lain murid-murid di Jepang tidak bisa "menikmati" enaknya sekolah.
Sebab dari waktu ke waktu anak didik di Jepang dikejar-kejar oleh pekerjaan rumah, ulangan dan ujian. Hasilnya murid-murid Amerika lebih independent dan innovative dalam berfikir, dan juga sudah barang tentu lebih bahagia dibandingkan dengan anak-anak didik di Jepang. Namun demikian, kuranglah tepat kalau secara tegas ditarik kesimpulan bahwa sistem pendidikan yang menekankan disiplin dan hafalan serta daya ingat sebagaimana yang diterapkan di Jepang lebih hebat dari pada sistem pendidikan yang menekankan kebebasan, kemandirian dan kreatifitas individual sebagaimana yang diterapkan di Amerika Serikat.
Dibalik sistem pendidikan di Jepang yang kaku dan seragam tersebut sebenarnya ada beberapa hal yang patut dicatat. Pertama, dengan menegakkan disiplin patuh terhadap guru dan sekolah menyebabkan anak didik di Jepang secara riil menggunakan waktu sekolah lebih besar dari pada anak-anak sekolah di Amerika Serikat. Kedua, sistem pendidikan di Jepang telah berhasil melibatkan orang tua anak didik dalam pendidikan anak-anaknya. lbu, khususnya senantiasa memperhatikan, memberikan pengawasan dan bantuan belajar kepada anak-anaknya. Tambahan lagi, lbu-ibu ini terus secara berkesinambungan membuat kontak dengan para guru. Ketiga, di luar sekolah berkembang kursus-kursus yang membantu anak didik untuk mempersiapkan ujian atau mendalami mata pelajaran yang dirasa kurang. Keempat, status guru dihargai dan gaji guru relatif tinggi. Hal ini mengakibatkan pekerjaan guru mempunyai daya tarik.
Di fihak lain, pendidikan di Amerika tidaklah sebagaimana digambarkan orang, dimana anak didik mempunyai kesempatan yang luas untuk mengembangkan kreatifitasnya. Penelitian nasional yang dilakukan oleh Goodlad yang kemudian diterbitkan menjadi buku yang berjudul "A Place called school" ternyata menunjukkan sesuatu yang lain. Antara lain disebutkan ternyata hanya sekitar 5 % dari waktu jam pelajaran yang digunakan untuk berdiskusi. Sebagian besar waktu, sekitar 25 % untuk mendengarkan keterangan guru, sekitar 17 % waktu untuk mencatat dan sisa waktu yang lain untuk praktek, mempersiapkan pekerjaan dan test. Jadi dengan kata lain, sistem pendidikan di Amerika tidak sepenuhnya berjalan sebagaimana dicita-citakan para ahli.
B. Kiblat Pendidikan
Membaca laporan kedua team di atas, setidak-tidaknya memberikan nuansa baru. Yakni bahwa sistem pendidikan untuk suatu bangsa harus sesuai dengan falsafah dan budayanya sendiri. Mengambil alih suatu sistem atau gagasan dibidang pendidikan dari bangsa lain harus dikaji penerapannya dengan latar belakang budaya yang ada. Sebagai contoh, sekarang ini dunia pendidikan Indonesia sedang dilanda semangat untuk mengetrapkan sistem pengajaran yang menekankan "proses", dengan metode pengajaran yang disebut "Inquiry Teaching Method". Metode ini sangat ampuh untuk meningkatkan critical thinking anak didik. Tapi dalam praktek metode ini sulit untuk bisa diterapkan di kelas kelas di Indonesia. Mengapa ? Sebab metode ini menuntut adanya suasana yang bebas di kelas dan anak didik memiliki semangat untuk mencari kebenaran dan keberanian untuk mengutarakan gagasannya. Dan hal ini yang belum dimiliki oleh kelas-kelas dinegara kita. Oleh karena itu gagasan menerapkan metode inquiry perlu didahului mengembangkan kondisi-kondisi yang diperlukan. Misalnya dengan mulai menerapkan di tingkat sekolah dasar kelas satu. Atau, malahan sebaliknya, lebih baik memantapkan pelaksanaan pengajaran dengan metode yang sudah dikenal tetapi sebenarnya belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. Sebagaimana yang pernah penulis temui pada suatu pertemuan dengan guru-guru sekolah menengah yang menyatakan "Apakah tidak sebaiknya kita mencoba untuk mengembangkan bagaimana cara mengajarkan dengan metode ceramah yang efektif, dari pada menggunakan metode baru yang masih sangat asing ?" Nampaknya, kiblat pendidikan tidak hanya Amerika Serikat, kita perlu berkiblat juga ke Jepang dalam rangka menyusun dan mengembangkan sistem pendidikan yang cocok dengan falsafah dan budaya Indonesia.
Penulis tidak bermaksud membandingkan keduanya karena keterbatasan informasi yang di peroleh. Ide menulis didapat karena keterlibatan penulis dalam jajaran tenaga pendidik disebuah pesantren yang ada di tempat tinggalnya.
Sepengetahuan penulis, pondok pesantren sekarang ini dimasukkan dalam satuan pendidikan oleh Departemen Agama sama dengan tingkatan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Untuk tingkat dasar dalam pesantren dikenal tingkatan Ula (setara MI) dan Wustha (setara MTs). Sebagai konsekwuensi dari disamakannya status pondok pesantren dengan lembaga pendidikan formal agama maka dikeluarkanlah dana dari pemerintah ke lembaga / yayasan suwasta sebagai dana Bantuan Operasional Sekolah bagi pondok pesantren yang menerapkan pendidikan tingkat dasar. Pondok pesantren di daerah terpencil yang masih mengandalkan partisipasi masyarakat dalam operasionalnya tentunya mendapatkan setetes embun ditengah kehausan menerima dana BOS tersebut.
Mata pelajaran umum diterapkan. Pada awalnya, mata pelajaran yang diterapkan pada lembaga pendidikan pondok pesantren tidak menerapkan mata pelajaran lain selain pelajaran agama yang meliputi akhlak, tauhid, al-quran, dll. Namun kini pondok pesantren yang menerima dana dari pemerintah wajib memberikan pendidikan umum seperti Matematika, IPA, B. Inggris, PPKn, dll. Para santri harus menempuh Ujian Nasional (UN) pada akhir pendidikan mereka agar mendapat ijazah nasional yang diakui oleh pemerintah sebagai bukti tamat pendidikan.
Pondok pesantren modern kebanyakan telah memberikan mata pelajaran umum seperti sekarang ini sebelum diwajibkan oleh Departemen Agama. Sebagai contoh, pelajaran Bahasa Inggris adalah pelajaran bergengsi bagi pondok pesantren modern sebagai daya tarik bagi para orang tua untuk mendaftarkan anak mereka. Lulusan Ponpes terkenal jago dalam dua bahasa yaitu Arabic dan English. Jam mata pelajaran umum pun ditambah dengan tidak mengurangi jam mata pelajaran agama. Jam belajar santri bertambah, sehingga jam belajar para santri lebih banyak daripada siswa. Kurikulum diterapkan dengan adanya Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pendidikan (RPP) yang tersusun dan terencana. Para santri mendapat materi dan jadwal belajar yang tepat waktu sesuai dengan kalender pendidikan. Perubahan itu membuat Ponpes mengalami kemajuan yang siknifikan dengan menghasilkan para santri yang bermutu. Kita menyebutnya dengan Pesantren Modern.
Lain halnya dilingkungan Ponpes dimana penulis saat ini terdaftar sebagai tenaga pendidik mata pelajaran umum. Yayasan mencantumkan nama penulis sebagai tenaga pendidik seperti tenaga guru lainnya sebagai syarat menerima bantuan dari pemerintah. Pendidikan tidak berubah dengan mengedepankan pendidikan agama namun tidak menerima mata pelajaran lainnya mendapat porsi yang cukup dalam”kalender pendidikan” mereka. Mata pelajaran umum ibarat “ilmu” yang kurang bermanfaat, maaf kalo bisa dibilang banyak mudhorotnya daripada manfaatnya. Seringkali santri meninggalkan kelas apabila guru mata pelajaran umum masuk. Dan itu tidak mendapatkan tanggapan apapun dari dewan ustad lainnya saat hal tersebut dibawa dalam rapat. Guru umum makan insentif buta dari pemerintah karena tekanan dan tidak diberinya jadwal mengajar didalam kelas. Dalam satu minggu guru hanya mengajar 3jam.
PENDIDIKAN TRADISIONAL DAN MODERN
Pendidikan tradisional (konsep lama) sangat menekankan pentingnya penguasaan bahan pelajaran. Menurut konsep ini rasio ingatanlah yang memegang peranan penting dalam proses belajar di sekolah (Dimyati Machmud, 1979 : 3). Pendidikan tradisional telah menjadi sistem yang dominan di tingkat pendidikan dasar dan menengah sejak paruh kedua abak ke-19, dan mewakili puncak pencarian elektik atas 'satu sistem terbaik'. Ciri utama pendidikan tradisional termasuk : (1) anak-anak biasanya dikirim ke sekolah di dalam wilayah geografis distrik tertentu, (2) mereka kemudian dimasukkan ke kelas-kelas yang biasanya dibeda-bedakan berdasarkan umur, (3) anak-anak masuk sekolah di tiap tingkat menurut berapa usia mereka pada waktu itu, (4) mereka naik kelas setiap habis satu tahun ajaran, (5) prinsip sekolah otoritarian, anak-anak diharap menyesuaikan diri dengan tolok ukur perilaku yang sudah ada, (6) guru memikul tanggung jawab pengajaran, berpegang pada kurikulum yang sudah ditetapkan, (7) sebagian besar pelajaran diarahkan oleh guru dan berorientasi pada teks, (8) promosi tergantung pada penilaian guru, (9) kurikulum berpusat pada subjek pendidik, (10) bahan ajar yang paling umum tertera dalam kurikulum adalah buku-buku teks (Vernon Smith, dalam, Paulo Freire, dkk, 1999 : 164-165).
Lebih lanjut menurut Vernon Smith, pendidikan tradisional didasarkan pada beberapa asumsi yang umumnya diterima orang meski tidak disertai bukti keandalan atau kesahihan. Umpamanya: 1). ada suatu kumpulan pengetahuan dan keterampilan penting tertentu yang musti dipelajari anak-anak; 2). tempat terbaik bagi sebagian besar
anak untuk mempelajari unsur-unsur ini adalah sekolah formal, dan 3). cara terbaik supaya anak-anak bisa belajar adalah mengelompokkan mereka dalam kelas-kelas yang ditetapkan berdasarkan usia mereka (Vernon Smith, dalam, Paulo Freire, dkk, 1999 : 165).
Ciri yang dikemukan Vernon Smith ini juga dialami oleh pendidikan Islam di Indonesia sampai dekade ini. Misalnya : Sebagian Pesantren, Madrasah, dan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang lain masih menganut sistem lama, kurikulum ditetapkan merupakan paket yang harus diselesaikan, kurikulum dibuat tanpa atau sedikit sekali memperhatikan konteks atau relevansi dengan kondisi sosial masyarakat bahkan sedikit sekali memperhatika dan mengantisipasi perubahan zaman, sistem pembelajaran berorientasi atau berpusat pada guru. Paradigma pendidikan tradisional bukan merupakan sesuatu yang salah atau kurang baik, tetapi model pendidikan yang berkembang dan sesuai dengan zamannya, yang tentu juga memiliki kelebihan dan kelemahan dalam memberdayakan manusia, apabila dipandang dari era modern ini.
Konsep pendidikan modern (konsep baru), yaitu ; pendidikan menyentuh setiap aspek kehidupan peserta didik, pendidikan merupakan proses belajar yang terus menerus, pendidikan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi dan pengalaman, baik di dalam maupun di luar situasi sekolah, pendidikan dipersyarati oleh kemampuan dan minat peserta didik, juga tepat tidaknya situasi belajar dan efektif tidaknya cara mengajar (Dimyati Machmud, 1979 : 3). Pendidikan pada masyarakat modern atau masyarakat yang tengah bergerak ke arah modern (modernizing), seperti masyarakat Indonesia, pada dasarnya berfungsi memberikan kaitan antara anak didik dengan lingkungan sosial kulturalnya yang terus berubah dengan cepat.
Tulisan ini sebagian dikutip dari berbagai sumber, dan ini salah satu tugas waktu kuliah. Jika ada kesalahan mohon koreksinya. Mohon maaf penulis lupa sumber bukunya Karena file makalah ini di PC saya sudah tidak ada lagi . Maklum waktu itu masih semester awal. Jadi tugasnya belum sempurna.
Sejarah Perkembangan komputer - makalah
Terciptanya komputer diawali dengan perkembangan alat hitung, maka dalam meninjau perkembangan komputer kita tak lepas dari perkembangan alat hitung. Alat hitung tertua yang sekarang masih digunakan adalah abacus (di Indonesia dikenal dengan nama sempoa) alat ini berasal dari Timur Tengah dikenal di Eropa pada Marcopolo.
Pada tahun 1642 seorang pemuda berumur 16 tahun bernama Blaise Pascal membuat sebuah mesin jumlah (Mechanical Adding Mavhine) yang digunakan pada kantor ayahnya di Rouen Perancis pada tahun 19673, seorang Phyosopy jerman bernama Leibniz. Membuat mesin hitung yang dapat menambah dan mengalikan. Pada Tahun 1975 seorang Peranvis bernama Joseph Mario Jacuard, merancang sebuah metode penggunaan lubang-lubang pada kartu untuk mengotrol benar-benar pada penenum tekstil.
Pada tahun 1833, Charles Babbage menggunakan konsep yang mendekati stored program pada komputer modren dan mesinnya disebut Analytical Engine. Pada tahun 1854, George boole menerapkan operasi matematika logic (aljabar logic), penemuan ini merupakan seumbangan besar dalam perkembangan menuju abad komputer. Pada tahun 1880, Dr. Herman Hollerith dari United States Census Bureau menemukan metode dengan menggunaka punch card untuk merekam data dalam mesin sensusnya. Hal ini membawa ollerth kearah suksesnya pada tahun 2886 ia mendirikan Tabulasi Machane Campany dikemukakan hari Tabulating Machine Compay berembang menjadi internasinal Bussiness Machine Corporation. (I.B.M).
Pada tahun 1908 James Power dari Census Bareau merencanakan mesin untuk memproses dengan menggunakan punch car dan mesin ini digunakan pada tahun 1910 pada tahun 1911 ia membentuk Power Accounting Machine Compay yang kemudian hari menjadi Remington Rand Company dan sekarang menjadi Univac Division of Sperry and Corporation.
Pada tahun 1930 M Jhon V. Atanasiffy menciptakan meisn hitung yang berkerja secara elektronik, tetapi pemutusan dan penyambungan arus listrik masih dilakukan secara mekanis pada tahun 1944 Howard Aiken membuat komputer yang dapat melakukan operasi artimatika dan logika secara otomatis, komputer nya disebut dengan nama Mark I. Mark I segera diganti dengan munculnya komputer elektronik yang otomatis bernama Eniac. Komputer ini dirancang oleh J. Prosper Ecklert dan Jhon W.Mauchly.
A. Generasi Komputer
Hingga saat ini perkembangan komputer dapat dikatakan telah mengalami 6 generasi yang dapat dikelompokkan sebagai berikut :
- Pra generasi (sebeum tahun 1946)
- Generasi I (tahu 1946-1959)
- Generasi II (tahun 1959-1965)
- Generasi III (tahun 1965-1970)
- Generasi IV (sejak 1970)
- Generasi V (sekarang dalam tahap perkembangan)
B. Komputer Generasi Pertama ( 1946-1959)
Ciri-ciri komputer generasi kedua :
1. Komponen utama yang digunakan adalah transistor sirkuitnya
2. Program yang dibuat dengan bahas tingkat (High Level Language), seperti : Fortran, Cobol, Alkgol (The Algorithnic Language)
3. Kapasitas memory utamanya sudah cukup besar
4. Ukuran fisik komputer lebih kecil
5. Proses operasi sudah cepat dapat memproses jutaan operasi perdetik
6. Membutuhkan lebih sedikit daya listrik
7. Orientasinya tidak hanya pada aplikasi bisnis tetapi juga pada aplikasi teknik. Contoh komputernya : Univac III, Burroughs 200, IBM 7070, Honeywell 400, Honeywell 800.
C. Komputer Generasi Ketiga (1965-1970)
Ciri-ciri komputer generasi ketiga :
1. Komponen yang digunakan adalah IC (Integrated Circuit)
2. Prosesnya lebih cepat, kecepatan hamper 10.000 kali dari komputer generasi pertama
3. Kapasitas memori komputer lebih besar dapat menyimpan ratusan ribu karakter.
4. Penggunaan listrik lebih hemat
5. Memungkinkan untuk melakukan multiprocessing dan multi programing. Multi processing yaitu dapat memproses sejumlah data dari sumber-sumber yang berbeda pada waktu yang bersamaan.
6. Kemampuan melakukan komputer data dari satu komputer dengan komputer lainnya, misalnya lewat alat komunikasi telepon. Contohnya : IBM S/360, NOVA.
D. Komputer Generasi Keempat (Sejak 1970)
Sejak dari generasi ketiga orang sulit membayangkan komputer generasi selanjutnya, karena telah banyak seklai perkembangan-perkembangan yang telah terjadi yang sebelumnya belum pikirkan, tetapi sejak tahun 1970 ada dua perkembangan yang dianggap sebagai komputer generasi keempat.
Yang pertama adalah penggunaan Large Scale Intergation (SLI) atau juga dengan nama Bipolar Large Scale Intergation. SLI merupakan pemedatan beribu-ribu IC yang dijadikan satu dalam sebuah chip istilah chip digunakan untuk menunjukkan suatu lempengan persegi empat yang memuatan rangkaian-rangkaian terpadu (Intergrated Circuits). LSI kemudian dikembangkan menjadi VLSI (Very Large Scale Integration).
Yang kedua adalah dikembangkannya komputer mikro yang menggunakan miriprocessor dan semi condutor yang berbentuk chip untuk memori komputer (Internal Komputer), sedangkan generasi komputer sebenarnya masih menggunakan magnetic core storage. Contoh komputer generasi keempat yang pertama :
- Tahun 1970, IBM 370 telah menggunakan LSI yang merupakan komputer generasi keempat yang pertama.
- Tahun 1977 perusahaan detepoint corporation mengumumkan Arcnet yang merupakan komputer lokal Area Network (LAN), LAN adalah jaringan komputer yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya yang dihubungkan dengan kabel dalam satu areal lokal.
- Tahun 1977 merupakan perkembangan yang sangat penting dalam dunia komputer mikro sejak saat ini mempunyai bentuk fisik yang kecil dengan harga murah yang dapat dijadikan oleh masyarakat, sehingga disebut dengan komputer personal.
- Tahun 1981 Xerox Corpotion memperkenalkan komputer di atas meja (desk-top komputer) yang dapat menampilkan beberapa bentuk dilayar sekaligus dalam bentuk jendela (window) dan mengunakan alat mous yang pertama
E. Komputer Generasi Kelima
Komputer generasi kelima sedang dalam perkembangan komputer yang digunakan adalah VLSI (Very Large Scale Intergration) disamping VLSI juga sedang dilakukan pengembangan terhadap Josephson Junction yang memungkinkan bias menggantikan chip. Josephson mempunyai kemampuan memproses milyard oprasi per detik jepang adalah Negara yang mempelopori perkembangan generasi kelima.
BAB III
KESIMPULAN
Secara umum pengertian komputer adalah seperangkat alat eletronik yang mengolah data-data menjadi informasi bantuan instuksi yang dimegerti oleh komputer yang disebut bahasa program. Komputer begitu penting terutama dalam menunjang kegiatan bisnis.
Dengan menggunakan komputer dalam memecahkan suatu masalah, maka akan merasakan manfaat yang besar dalam hal : efisien waktu, biaya dan tenaga, kecermatan dan ketelitian perhitungan, ketetapan suatu analisa jumlah data yang dapat diolah besar dapat memecahkan masalah-masalah yang rumit yang tidak dilakukan tanpa menggunakan komputer. Hasil komputer dapat disajikan lebih baik dan menarik.
Komputer bermacam-macam jenis dan ukurannya, tetapi berdasarkan lemampuannya (kecepatan, kapasitas memory dan ukurannya), komputer dapat dikelompokkan, berdasarkan jenis datanya, berdasarkan kemampuannya, berdasarkan segi kehunaannya.
Sejarah perkembangan komputer dapat dikatakan telah mengalami 6 generasi yaitu Pra generasi (sebelum tahun 1946), Generasi I (tahun 1946-1959), Generasi II (tahun 1959-1965), Generasi III (tahun 1965-1970), Generasi IV (sejak tahun 1970), Generasi V (sekarang dalam tahap perkembangan).
DAFTAR PUSTAKA
Davis, Gordon B. Intoduktion to computer. Third edition Kogafusha McGrow Wiil : Internasional Studen Edition. 1981.
Gunadi, Stion FX. Belajar Sendiri Wordtar Professional Release 5. 5 Cetakan Ke-I Jakarta : PT. Eleex Media Kompotindo Kelompok Gramedia. 1989.
Chandra K. Lan. PC-DOS Versi 3.3 Jakarta : PT. Elex Media Kompotindo Kelompok Gramedia. 1988.
Gunawan, Donny dan Iwan Irawan. Wordstar 5.5. Jakarta : PT. Eleex media Kompotindo Kelompok Gramedia. 1990.
Lous development Corporation. Lotus 1-2-3 Release 2 Manual Reference. USA : Lotus Development Corp. 1987.
Micropro Internation Corporation. Wordstar Propessional Release 4 California : Micropro Internasional. 1987.
Sutantyo, Wirnardi. Secepat dan Semudah Lotus 1-2-3 Versi 2.2. Jakarta : PT. Eleex Media Kompitindo Kelompok Gramedia. 1990.
Sutantyo Winardi, dan Markus Ribijanto Kusuma. Pemproproraman Dbase III Plus. Lihat juga Makalah kenakalan remaja
Makalah Pemahaman diri Pribadi Siswa
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemahaman
diri banyak diperbincangkan oleh banyak orang dan setiap orang mengartikan
pemahaman diri menurut cara pandang mereka masing-masing. Maslow
menyebutnya personal meaning yang dimuat Kira pada yahoo answer menggambarkan
bahwa meaning dialami dari aktualisasi diri, individu yang termotivasi untuk
mengetahui alasan atau maksud dari keberadaan dirinya. Ia juga mengatakan bahwa
setiap individu memiliki dorongan untuk memenuhi kebutuhannya dari yang
sederhana sampai kebutuhan yang kompleks. Aktualisasi diri adalah pencapaian
suatu potensi terbesar dalam diri, menjadi yang terbaik yang dapat
dilakukannya, dan mencapai tujuan hidup dirinya.
Selalin
itu Baumeister mengatakan bahwa meaning mengandung beberapa bagian kepercayaan
yang saling berhubungan antara benda, kejadian dan hubungan. Baumeister
menekankan bahwa meaning pada akhirnya memberikan arahan, intensi pada setiap
individu, di mana perilaku menjadi memiliki tujuan , daripada hanya berperilaku
berdasarkan insting atau impuls.
Menurut
Reker yang di tulis oleh Maria Antoinete pada blog
http://rumahbelajarpsikologi.com, menjelaskan bahwa orang yang memahami diri
adalah mereka yang memiliki tujuan hidup, memiliki arah, rasa memiliki
kewajiban dan alasan untuk ada (eksis), identitas diri yang jelas dan kesadaran
sosial yang tinggi.
Pemahaman
diri adalah suatu cara untuk memahami, menaksir karakteristik, potensi dan atau
masalah (gangguan) yang ada pada individu atau sekelompok individu (buku
ajar-pemahaman individu teknik.non.html).
Menurut
Santrock, Pemahaman diri (self – Understanding) adalah gambaran kognitif remaja
mengenai dirinya, dasar, dan isi dari konsep diri remaja
(http://tizarrahmawan.wordpress.com)
Menurut
Hartono (2010: 209) pemahaman diri siswa SMA adalah pengenalan secara mendalam
atas potensi-potensi dirinya yang mencakup ranah minat, abilitas, kepribadian,
nilai dan sikap yang mana pengenalan siswa atas pribadinya sendiri mencakup dua
sisi yaitu pengenalan siswa atas keunggulannya dan pengenalan siswa atas
kekurangannya sendiri. Kekuatan merupakan seperangkat kemampuan yang dimiliki
siswa baik yang bersifat potensial maupun aktual. Kekuatan siswa menggambarkan
keunggulan, kehebatan pribadi siswa, sedang kekurangan siswa adalah sejumlah
keterbatasan yang dimiliki siswa. Kekurangan siswa menggambarkan ketidak
mampuan siswa yang menjadi hambatan siswa dalam meraih cita-cita.
Dalam modul layanan informasi tentang
pemahaman diri yang disusun oleh tim konselor RSMABI Jawa Tengah pada workshop
penyusunan modul RSMABI Jawa Tengah tanggal 6 s/d 9 Nopember 2009 menggambarkan
bahwa pengelan terhadap diri sendiri merupakan kemampuan seseorang dalam
mengeksplorasi potensi diri sendiri yang terdiri dari potensi fisik dan potensi
psikis. Potensi psikis yaitu kelebihan pada anggota badan, panca indera beserta
kekuatan/ kualitasnya, sedangkan potensi psikis yaitu seluruh kemampuaqn dan
kekuatan yang dimiliki seseorang yang
berkaitan dengan kemampuan kejiwaan
antara lain : intelektual(IQ), bakat, minat, dan sifat, ciri-ciri kepribadian.
Sumber
lain, dalam materi kuliah perencanaaan karier yang susun di Universitas Negeri
Malang (UM) jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi menyatakan tujuan materi
pemahaman diri adalah membantu siswa mengeksplorasi kemampuan/ bakat, miatnya,
nilai-nilai kepribadian dan kemampuan emosioalnya dalam rangka memahami diri
dalam kaitannya dengan memasuki dunia kerja.
Dari
uraian diatas penulis menyimpulkan bahwa pemahaman diri adalah suatu situasi
yang dialami individu dimana seseorang mengenal tentang potensinya baik potensi
fisik maupun potensi psikisya sehingga individu memahami arah dan tujuan
hidupnya atau cita-cita. Potensi fisik yaitu sejumlah kemampuan yang ada pada
anggota badan dan panca indra individu sedangkan potensi psikis individu
mencakup minat, abilitas, kepribadian, nilai dan sikap. Pemahaman yang
dimaksudkan disini tidak hanya terbatas pada pengenalan siswa atas
keunggulannya saja tetapi juga mencakup pengelan siswa atas kekurangan yang ada
dalam diri.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Aspek
pemahaman pribadi siswa
Pada
aspek pribadi, ada 3 masalah yang sering dihadapi oleh siswa yaitu :
- Merasa rendah
diri dengan wajah yang kurang cantik/cakep.
Untuk masalah rendah diri dengan wajah yang
kurang cantik ini, lebih menonjol pada masalah kurang kepercayaan diri ( kurang
PD ). Siswa-siswi SMA sering mengalami masalah ini, bahkan kebanyakan
orang-orang merasa tidak PD dengan wajah mereka yang dianggap tidak
cantik/cakep.
Untuk mengatasi hal ini ada beberapa hal yang
perlu kita terapkan pada diri kita sendiri, yaitu :
Tidak
menghiraukan siapa yang memandang kita.
Percaya diri
sajah dengan apa yang kita miliki.
Lakukan
aktifitas dengan baik.
Tunjukkan
sesuatu yang menurut anda merupakan kelebihan yang anda punya,
Jika kulit
wajah anda gelap ( hitam ) pakailah bedak yang sewajarnya.
Jika kulit
badan anda gelap ( hitam ) pakailah pakaian yang warnanya tidak bertolak belakang dengan
warna kulit anada, misalnya warna kuning, merah, hijau dan orange. Cobalah
memakai pakaian dengan motif warna coklat, krem, atau pink muda.
Usahakan kulit
anda tidak kusam dan anda selalu tampil dengan keadaan yang sederhana namun
membwa kesan yang anggun.
Dengan adanya beberapa hal diatas tadi,
masalah kurang percaya diri dengan wajah
anda yang kurang cantik/cakep akan sedikit membantu anda ketika anada mengalami
masalah tersebut.
Dalam
masalah ini kita dapat mengembangkannya dalam bentuk layanan informasi. Dimana
didalam layanan ini terdapat bebrapa informasi yang diberikan oleh seorang guru
BK terhadap siswa untuk menghindari masalah tersebut. Dengan adanya informasi
diatas siswa bisa menghindari masalah Merasa rendah diri dengan wajah yang
kurang cantik/cakep.
- Mudah putusa
asa (frustasi) apabila mengalami kegagalan.
Untuk masalah mudah putus asa atau frustasi
apabila mengalami kegagalan, siswa dapat merasakan hal ini, ketika siswa
melakukan sesuatu hal atau misi sederhananya dalam melakukan suatu aktifitas.
Untuk mengatsi masalah ini ada satu contoh kasus yang bisa dijadikan pelajaran
buat anda.
Disebuah
sekolah ada seorang siswa duduk dibangku kelas III SMA yang saat itu menjalani
UJIAN AKHIR NASIONAL (UAN). Ketika pengunguman berlangsung, ia tidak lulus (
gugur ). Ia mersa kecewa dan sedih sekali. Ia mersa putus asa ketika ia
mengalami kegagalan. Ia pun merasa stress bahkan frustasi saat itu. Ia
mengurung diri didalam kamarnya, ia tidak mahu makan dan ia tidak mau berbicara
dengan siapapun, ia merasa malu dengan apa yang ia dapatkan sekarang.
Hari
demi hari berlalu ia pun sedikit mahu untuk keluar kamar dan mahu berbicara
dengan orang-orang disekitarnya, walaupun ia tidak seceria dulu. Tiba-tiba ada
seorang temannya mengajaknya untuk berjalan-jalan sedikit. Dipersimpangan jalan
ia melihat ada sebuah tempat yang melakukan audisi presenter. Ia mersa mampu
dan ia ingin sekali mengikuti audisi tersebut. Melihat semangat yang ia tunjukkan
temannya pun membantunya untuk mengikuti audisi tersebut. Berkat semangat dan
kepercayaan dirinya, ia pun lulus dan berhasil menjadi raner up 1 dalam audisi
prenter tersebut. Kini ia menjadi seorang presenter berbakat yang tampil dari
satu acara ke acara lain. Walaupun bukan hal itu yang ia cita-citakan.
Dari
cerita diatas saya harap anda dapat mengambil contoh kasus tersebut dan
mengembangkannya dalam kehidupan anda ketika anda mengalami masalah tersebut.
Dengan adanya layanan Konseling kelompok siswa dapat mencurahkan isi hatinya
dan masalah pribadinya kepada seorang guru BK yang ada disekolah masing-masing.
Dengan adanya layanan ini kita dapat memberikan solusi dari masalah yang mereka
alami. Terlebih lagi dalam mengatasi masalah keputus asaan ketika mengalami
kegagalan. Kita sebagai gruru BK dapat memberikan ia motivasi, dorongan dan
support yang bisa membantunya dalam melewati masalah ini.
- Punya keinginan
(cita-cita) yang kurang sesuai dengan kemampuan.
Semua
orang punya impian dan cita-cita yang berbeda-beda. Manusia diciptakan untuk
memiliki impian dan mampu mewujudkannya. Bagaimana dengan seseorang yang
mempunyai cita-cita tapi tidak sesuai dengan kemampuannya? Kita mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Jika
kita hanya mempunyai keterbatasan kemampuan, maka kita memandang sedikit apa
yang menjadi kelebihan yang ada pada diri kita. Misalnya seorang wanita.
Sewaktu duduk dibangku SMA ia ingin duduk dibangku IPA, namun kemampuannya
tidak dapat menjangkau jurusan tersebut.
Cita-citanya ingin menjadi seorang dokter yang professional dalam merawat
masyarakat yang kurang mampu. Akan tetapi karena ia tidak bisa menenpati
jurusan IPA akhirnya ia memutuskan untuk menempati jurusan BAHASA. Ia semakin
hari terlatih dalam merangkai kata. Dan ia bercita-cita sebagai satrawan.
Walaupun menurutya ini bukan cita-cita utamanya. Namun ia menyadari walaupun
cita-citanya ingin menjadi seorang dokter dan kemampuannya tidak sampai disitu,
akan tetapi dengan ia menyadari bahwa ia ingin memiliki kelebihan dalam mengarang
sebuah karya, maka ia memtuskan untuk menjadi seorang sastrawan. Walaupun
begitu, ia tetap belajar ilmu kedokteran dan akan dimuat dalam tulisannya
disebuah buku yang ia buat sendiri.
Masalah
ini dapat kita kembangkan dengan menggunakan layanan yang ada diBK yaitu
layanan penempatan dan penyaluran. Guru BK dapat memberikan layanan ini dengan
cara memberikan solusi dengan menyadarkan siswa bahwa ia memiliki kelebihan
yang dapat ia gunakan untuk menggapai cita-citanya yang tidak sesuai dengan
kemampuannya. Masing-masing orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda.
2.2 Teknik Pemahaman
Teknik Pemahaman Individu terdiri
dari teknik tes dan teknik non tes. Tes dan non tes merupakan salah instrument
untuk memahami individu dalam keseluruhan layanan konseling. Masing-masing
instrument tersebut memiliki karakteristik dalam penggunaannya. Teknik-teknik
tersebut, diantaranya:
1. Teknik Tes
Dalam pelayanan bimbingan dan konseling, pada
umumnya tes yang digunakan untuk memperoleh data klien adalah tes inteligensi,
tes bakat, tes kepribadian (minat, kecenderungan kepribadian), dan tes prestasi
belajar.
Hasil tes akan mempunyai makna sebagai
informasi bagi klien jika tes tersebut dianalisis dan dinterpretasi, dalam arti
tidak hanya berhenti pada penyajian sekor yang diperoleh seorang klien. Untuk
kepentingan konseling, hasil tes dapat digunakan sebelum konseling, pada saat
proses konseling, dan setelah konseling sebagaimana dikatakan oleh Super dan
Bordin (dalam Goldman 1971: 23).
Pada tahap sebelum konseling hasil informasi
tes digunakan konselor sebagai bahan pertimbangan, yaitu untuk menentukan jenis
layanan apakah yang akan diberikan konselor kepada klien, untuk menentukan
fokus masalah yang dialami klien, dan sebagai salah satu bahan diagnosis dari
proses yang berkesinambungan dan dipadukan dengan hasil analisis yang lain.
Misalnya informasi dari teknik non testing : observasi, wawancara, sosiometri,
kuesioner, biografi.
Pada tahap proses konseling informasi hasil
tes digunakan untuk menafsirkan prognosis dengan memberikan
alternatif-alternatif tindakan tentang pendekatan, metode, teknik, dan alat
mana yang digunakan dalam upaya membantu pemecahan masalah yang dialami klien.
Berdasarkan hasil tes konselor mendapatkan pelengkap data khususnya mengenai
sifat-sifat kepribadian klien yang selama ini belum dapat terungkap melalui
teknik non tes, sehingga diharapkan hasil informasi tes tersebut dapat membantu
kerangka berpikir konselor di dalam merefleksi perasaan klien.
Di samping itu, informasi hasil tes
disampaikan kepada klien dengan harapan klien lebih mengenali dirinya sendiri
sehingga klien mampu mengembangkan harapan-harapan yang realistis dalam proses
konseling. Pada tahap akhir konseling informasi hasil tes digunakan untuk
memberikan bantuan dalam membuat keputusan-keputusan dan rencana-rencana untuk
masa depan dengan alternatif-alternatif tindakan secara realistis. Selain itu
juga merupakan sumbangan yang berarti bagi klien untuk proses perencanaan dan
pilihan tindak lanjut, berkaitan tentang dirinya sendiri dalam hubungannya
dengan fakta sekarang yang ada.
2. Teknik Non Tes
Konselor pada umumnya memahami dan terampil
menggunakan teknik non tes dalam melakukan pelayanan bimbingan dan konseling.
Teknik non tes dimaksud antara lain observasi, kuesioner, wawancara, inventori
(DCM, AUM, ITP), dan sosiometri. Konselor sejak kuliah sudah berlatih secara
intensif menyusun dan menggunakan teknik non tes untuk memahami individu dalam
konteks pelayanan bimbingan dan konseling. Hal tersebut berlanjut sampai mereka
bekerja di lapangan. Sementara di sisi lain keterampilan menggunakan teknik tes
sangat terbatas karena tes terstandar sudah siap pakai, dan penggunaannya
terikat kode etik yang ketat sebagaimana disebutkan dalam Kode Etik Profesi Bimbingan
dan Konseling Indonesia (PB ABKIN, 2006).
Suatu jenis tes hanya diberikan oleh konselor
yang berwenang menggunakan dan menafsirkan hasilnya. Konselor harus selalu
memeriksa dirinya apakah mempunyai wewenang yang dimaksud. Adapun aturan-aturan
konselor, diantaranya:
a. Testing dilakukan bila diperlukan data yang
lebih luas tentang sifat atau ciri kepribadian subjek untuk kepentingan
pelayanan
b. Konselor wajib memberikan orientasi yang
tepat kepada klien dan orang tua mengenai alasan digunakannya tes disamping
arti dan kegunaannya
c.
Penggunaan suatu jenis tes wajib mengikuti secara ketat pedoman atau
petunjuk yang berlaku bagi tes tersebut
d. Data hasil testing wajib diintegrasikan
dengan informasi lain yang telah diperoleh dari klien sendiri atau dari sumber
lain. Dalam hal ini data hasil testing wajib diperlakukan setara dengan data
dan informasi lain tentang klien
e. Hasil testing hanya diberitahukan kepada
pihak lain sejauh ada hubungannya dengan usaha bantuan kepada klien
Rambu-rambu tersebut menyebabkan pembelajaran
calon konselor berbeda dengan teman-temannya di program studi Psikologi, yang
dalam batas tertentu mereka memperoleh mata kuliah konstruksi tes. Namun
demikian, karena dalam pembelajaran calon konselor lebih menekankan penguasaan
konsep dan praksis teknik non tes, sudah barang tentu konselor semestinya
terampil menggunakan teknik non tes.
Keterampilan konselor dalam teknik non tes
semisal observasi, kuesioner, wawancara, inventori (DCM, AUM, ITP), sosiometri;
diperoleh mulai dari memahami konsepnya, kekhasan tiap metode, menyusun
instrumen, melakukan pengumpulan data dengan metode tersebut, menganalisis dan
menginterpretasi data, menggunakan hasil praktik teknik non tes untuk pelayanan
bimbingan dan konseling.
Aplikasi instrumentasi teknik non tes oleh
konselor pada umumnya dilakukan secara terpadu, tidak menggunakan metode
tunggal. Karena pada umumnya untuk memahami individu secara utuh: potensinya,
masalahnya, dan kemungkinan pengembangan pribadinya tidak dapat diperoleh dari satu
metode saja. Misalnya observasi tidak menjangkau data latar belakang keluarga
yang lebih tepat diungkap melalui kuesioner, sebaliknya kuesioner tidak bisa
mencatat aktivitas klien “secara on the spot” ketika mengikuti kegiatan
tertentu di sekolah; wawancara bisa lebih mendalami latar belakang mengapa
seorang siswa memilih dan menolak temannya satu kelas dari pada sekedar alasan
memilih dan menolak temannya yang tertulis dalam angket sosiometri.
2.3
Kegunaan Pemahaman Pribadi Siswa
Pemahaman diri merupakan aspek
penting bagi siswa SMA. Siswa yang memahamai diri lebih memiliki peluang yang
besar dalam meraih cita-cita dari pada siswa yang belum mengenal dengan baik
akan diri mereka sendiri, karena mereka yang memahami diri telah memahi
kemampun, minat, kepribadian, dan nilai termasuk kelebihan dan kekurangan yang
ada dalam diri mereka sehingga mereka memiliki arah dan tujuan hidup yang
realistis dimana mereka memilliki cita-cita yang sesuai dengan potensi diri.
Menurut Muhamat Farid
(http://tizarrahmawan.wordpress.com) ketika seseorang mengetahui kondisi dan
gambaran tentang dirinya maka dia akan dapat menjalani hidupnya dengan nyaman
dan juga memiliki rasa percaya diri yang kuat karena sudah memiliki pandangan
diri yang jelas.
Dalam materi kuliah yang disusun di
Universitas Negeri Malang dengan materi pemahaman diri ditujukan agar siswa
mampu mempersiapkan diri dalam memasuki dunia kerja, sehingga dapat mencapai
kesuksesan dalam karier.
Pemahaman diri atau disebut knowing
yourself oleh Levinson, Ohler, Caswell dan Kiewra merupakan aspek penting dalam
pengambilan keputusan ( dalam Hartono, 2010: 61) selanjutnya kemampuan siswa
dalam pengambilan keputusan karier merupakan wujud nyata dari kematangan
perkembangan karier siswa. Sedangkan kematanngan karier menurut Super ( dalam
Hartono, 2010: 63) memilki enam dimensi, yaitu; (1) dimensi membuat pilihan karier, (2) dimensi
kompetensi khusus tentang mencari informasi karier dan
keterampilan-keterampilan membuat perencanaan karier, (3) dimensi konsistensi pilihan-pilihan,
(4) dimensi pengenbangan konsep diri, (5) dimensi kebebasan membuaat keputusan
karier, dan (6) dimensi konsistensi membuat pilihan yang realistis berdasarkan
tujuan pribadi.
Dari uraian di atas penulis
menyimpulkan bahwa Kegunaan pemahaman pribadi
bagi siswa adalah:
a. Mampu mengeksplorasi potensi diri
mereka yang mencakup: minat, abilitas, dan cita-cita sehingga individu dapat
merencanakan karier yang sesuai dengan potensi diri.
b. Siswa bisa mempersiapkan diri
dengan baik dalam memasuki dunia kerja. Dengan persiapan yang matang individu
dapat mencapai kesuksesan dalam berkarier.
c. Siswa mencapai kematangan dalam
perkembangan karier
d. Siswa mampu mengambil keputusan
karier secara mandiri
BAB
III
KESIMPULAN
Pada
aspek pribadi, ada 3 masalah yang sering dihadapi oleh siswa yaitu :
·
Merasa rendah diri dengan wajah yang kurang
cantik/cakep.
·
Mudah putusa asa (frustasi) apabila mengalami
kegagalan.
·
Punya keinginan (cita-cita) yang kurang sesuai
dengan kemampuan.
Teknnik Pemahaman ada dua yaitu teknik non tes
dan teknik tes.
Kegunaan pemahaman pribadi bagi siswa adalah:
a. Mampu mengeksplorasi potensi diri
mereka yang mencakup: minat, abilitas, dan cita-cita sehingga individu dapat
merencanakan karier yang sesuai dengan potensi diri.
b. Siswa bisa mempersiapkan diri
dengan baik dalam memasuki dunia kerja.
c. Siswa mencapai kematangan dalam
perkembangan karier
Subscribe to:
Posts (Atom)
